Pernah nggak kamu kenal seseorang yang selalu senyum? Hmm, bukan yang selalu senyum kayak Joker gitu, bukan juga kayak Soo Ah (Gangnam Beauty) yang senyum-senyum pick me girl, tapi dia yang always smiling, positive vibes, keliatan friendly banget, dan super chill. Tipe orang yang bikin suasana jadi enak cuma dengan kehadirannya aja.
Maksudku beneran selalu. Di tempat kerja, di kelas, di grup chat, dia yang paling pertama ketawa, paling semangat nyemangatin orang, paling cepet bilang "tenang aja, kamu pasti bisa!"
Dan kamu langsung mikir... enak banget ya hidupnya. Positif banget, dan selalu kasih motivasi ke orang lain. Jujur, bukan berarti aku negative thinking sama vibes-nya, justru sebaliknya. Kayak ''I want to be like her, I love that vibe''. Vibesnya itu bikin aku makin penasaran, makin mikir, makin dalam, dan makin dalam lagi.
It's just kinda gorgeous, at least for me.
Tapi coba deh duduk bareng orang itu. Dua jam. Tanpa phone. Tanpa gangguan apapun.
Aku pernah ngelakuin itu. Nggak sengaja sebenarnya.
Orang yang aku kenal selama ini selalu jadi yang paling ramai di ruangan. Selalu punya energi lebih. Selalu punya kata kata yang bikin orang lain ngerasa lebih baik. Aku udah kenal dia cukup lama - few months - dan di kepalaku dia selalu jadi orang yang sama, yang itu, yang ceria itu.
Sampai suatu hari aku ketemu dia di tempat yang nggak biasa. Bukan di tengah keramaian. Bukan di situasi yang biasa biasa kami jalani bareng.
Dia duduk sendirian. Diam. Menatap ke satu titik tanpa ekspresi apapun.
Aku hampir nggak percaya itu orang yang sama.
Bukan karena dia sedih, tapi karena ekspresinya itu terasa asing banget. Kayak topeng yang biasa dia pakai lagi nggak ada di sana. Dan yang tertinggal adalah versi dia yang selama ini nggak pernah aku lihat. Versi yang lebih sunyi. Lebih berat. Lebih manusia.
Aku duduk di sebelahnya. Nggak langsung ngomong apa apa. Dan dia juga nggak.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya dia bilang pelan banget, hampir kayak ngomong ke diri sendiri.
"Capek juga ya, kalau harus selalu jadi orang yang baik baik aja."
Kalimat itu cuma sebentar di udara. Tapi berasa lama banget di dadaku.
Karena aku sadar, selama ini aku cuma kenal versi dia yang dia izinkan untuk dilihat orang lain. Dan baru hari itu aku ketemu versi dia yang sebenernya, waktu itu aku cuman bisa fikir, no judge, dengerin dia aja, siapa tau dia lagi butuh seseorang yang ngedengerin dia.
Kadang yang kamu temuin di balik senyum itu bukan kebahagiaan. Tapi kelelahan yang udah lama ditahan. Kesedihan yang bingung mau curhat ke siapa. Beban yang keberatan buat dipikul sendiri, tapi juga ngerasa nggak enak kalau harus cerita ke orang lain.
Kebetulan juga minggu kemarin pas nonton ulang Young Sheldon, Meemaw bilng gini 'What’s on a person's face is not always what's in their heart'. Wajah orang bisa bohong. Bukan karena mereka penipu. Tapi karena dunia ini jarang banget ngasih ruang buat kita jujur sepenuhnya, you have this feeling like everyone will judge you, they will say this and that, they will tell other people about this, so better I keep it by myself.
Aku pernah ada di posisi itu juga.
Senyum di depan semua orang, tapi begitu sampai rumah langsung diam aja. Bukan karena nggak mau cerita. Tapi karena tiap ada yang nanya "kamu baik baik aja?" jawabanku selalu keluar sendiri.
"Iya baik kok."
Padahal nggak.
Pertama, jawabannya automatis bilang 'iya baik kok'.
Kedua, malas mau ngomong, malas mau jelasin.
Makanya kalau hari ini kamu lagi baca ini, aku mau bilang dua hal.
Buat kamu yang lagi pura pura baik baik aja:
Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu nggak harus jadi orang yang selalu keliatan tegar di depan semua orang. Ngerasain sesuatu yang berat bukan berarti kamu lemah. Itu justru tandanya kamu manusia beneran. Like what I wrote in my novel - Novel Re.Pair - hidup itu ada fasenya. Ada turun, ada naik. Dan ngerasain sesuatu yang berat bukan berarti hidup udah di ujungnya. Itu justru tanda bahwa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah istirahat. Charge your energy. Tarik napas yang dalam. Dan persiapkan dirimu untuk fase selanjutnya.
Cari satu orang yang kamu percaya. Satu aja cukup. Terus coba jujur, meskipun cuma dikit dikit dulu.
It's okay not to be okay.
Buat kamu yang ada di sekitar orang orang itu:
Jangan cuma lihat mukanya. Tanya lebih dalam. Tanya bukan sekali, tapi dua kali. Karena biasanya jawaban yang jujur itu baru keluar di pertanyaan kedua, setelah orang itu yakin kamu emang beneran mau dengerin. -from my experience, it was a yes- walaupun akhirnya serba salah atau bingung setelah itu mau ngomong apa.
"What's on a person's face isn't always what's in their heart."
Kalimat ini bukan cuma soal kesedihan. Ini juga soal rasa sayang yang belum sempet diungkapin. Keberanian yang belum berani muncul ke permukaan. Mimpi yang masih disimpen rapat-rapat karena takut dianggap lebay atau nggak realistis.
Jadi coba lihat lebih dalam. Ke orang orang di sekitar kamu, dan juga ke diri kamu sendiri.
Karena hal yang paling penting seringkali adalah yang paling susah keliatan.
But back to the beginning, it was so cool and respect banget sebenarnya, di mana dia coba menyemangati orang lain, memotivasi orang lain, padahal dirinya sendiri nggak selalu nemuin sosok itu ketika dia sendiri yang lagi butuhkan.
Dan waktu aku ketemu dia lagi bengong sendirian itu, aku juga ikut bengong. Beneran. Aku nggak tau mau ngomong apa. Nggak ada kata kata yang berasa cukup. Nggak ada kalimat yang kedengarannya pas buat momen itu.
Aku cuman duduk di sebelahnya, sesekali nanya "ada apa?", tapi habis itu ya ikut bengong lagi. Jujur, aku tipe orang yang contohnya lagi di teras bareng beberapa orang dan ada dua orang lagi diskusi serius, aku mah sibuk makan kuaci. Mau orang bilang aku cuek - iya kamu benar. Mau orang bilang sapi kakinya tiga - iya kamu benar. Mau orang bilang alien pernah makan pizza - iya kamu benar juga. Aku mah semuanya benar, yang penting lass mich einfach in Ruhe.
Tapi jangan salah. Ini bukan berarti aku nggak peduli.
Justru mungkin ini cara aku yang paling jujur untuk bilang, aku nggak akan selalu punya jawaban yang pas. Aku nggak akan selalu tau kata kata yang tepat buat bikin kamu ngerasa lebih baik. Aku bukan tipe yang langsung punya speech motivasi yang menyentuh hati di momen momen kayak gitu.
Tapi aku di sini. Aku dengerin. Dan kadang memang itu aja yang cukup, bukan jawaban yang sempurna, tapi kehadiran yang nyata. So here I am. Masih bengong, tapi dengerin kamu kok. Jadi aku cuma duduk di sana. Diam. Dan dalam hati aku bilang ke diri sendiri, kalau kamu mau keluarin semuanya, silahkan. Aku di sini. Aku nggak kemana mana.
Aku sadar aku bukan orang yang paling tau cara comforting seseorang. Aku sendiri nggak tau harus mulai dari mana. Tapi aku coba sebaik yang aku bisa, dengan hadir, dengan dengerin, dengan nggak langsung kasih solusi atau kata kata manis yang kadang justru bikin orang ngerasa nggak dimengerti.
Karena kadang, being present dan beneran mendengarkan itu sendiri udah jadi support yang luar biasa besar. Lebih dari yang kita kira.
Until the next post, I hope today feels a little lighter than yesterday. Fighting yeorobunnnn.
Love,
Migroude.
.png)
















































.png)