Re . Pair

by Migroude

Sunday, June 07, 2026

What’s On a Person's Face Is Not Always What's In Their Heart

 

Picture via Pinterest

Pernah nggak kamu kenal seseorang yang selalu senyum? Hmm, bukan yang selalu senyum kayak Joker gitu, bukan juga kayak Soo Ah (Gangnam Beauty) yang senyum-senyum pick me girl, tapi dia yang always smiling, positive vibes, keliatan friendly banget, dan super chill. Tipe orang yang bikin suasana jadi enak cuma dengan kehadirannya aja.

Maksudku beneran selalu. Di tempat kerja, di kelas, di grup chat, dia yang paling pertama ketawa, paling semangat nyemangatin orang, paling cepet bilang "tenang aja, kamu pasti bisa!"

Dan kamu langsung mikir... enak banget ya hidupnya. Positif banget, dan selalu kasih motivasi ke orang lain. Jujur, bukan berarti aku negative thinking sama vibes-nya, justru sebaliknya. Kayak ''I want to be like her, I love that vibe''. Vibesnya itu bikin aku makin penasaran, makin mikir, makin dalam, dan makin dalam lagi.

It's just kinda gorgeous, at least for me.

Tapi coba deh duduk bareng orang itu. Dua jam. Tanpa phone. Tanpa gangguan apapun.

Aku pernah ngelakuin itu. Nggak sengaja sebenarnya.

Orang yang aku kenal selama ini selalu jadi yang paling ramai di ruangan. Selalu punya energi lebih. Selalu punya kata kata yang bikin orang lain ngerasa lebih baik. Aku udah kenal dia cukup lama - few months -  dan di kepalaku dia selalu jadi orang yang sama, yang itu, yang ceria itu.

Sampai suatu hari aku ketemu dia di tempat yang nggak biasa. Bukan di tengah keramaian. Bukan di situasi yang biasa biasa kami jalani bareng.

Dia duduk sendirian. Diam. Menatap ke satu titik tanpa ekspresi apapun.

Aku hampir nggak percaya itu orang yang sama.

Bukan karena dia sedih, tapi karena ekspresinya itu terasa asing banget. Kayak topeng yang biasa dia pakai lagi nggak ada di sana. Dan yang tertinggal adalah versi dia yang selama ini nggak pernah aku lihat. Versi yang lebih sunyi. Lebih berat. Lebih manusia.

Aku duduk di sebelahnya. Nggak langsung ngomong apa apa. Dan dia juga nggak.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya dia bilang pelan banget, hampir kayak ngomong ke diri sendiri.

"Capek juga ya, kalau harus selalu jadi orang yang baik baik aja."

Kalimat itu cuma sebentar di udara. Tapi berasa lama banget di dadaku.

Karena aku sadar, selama ini aku cuma kenal versi dia yang dia izinkan untuk dilihat orang lain. Dan baru hari itu aku ketemu versi dia yang sebenernya, waktu itu aku cuman bisa fikir, no judge, dengerin dia aja, siapa tau dia lagi butuh seseorang yang ngedengerin dia. 

Kadang yang kamu temuin di balik senyum itu bukan kebahagiaan. Tapi kelelahan yang udah lama ditahan. Kesedihan yang bingung mau curhat ke siapa. Beban yang keberatan buat dipikul sendiri, tapi juga ngerasa nggak enak kalau harus cerita ke orang lain.

Kebetulan juga minggu kemarin pas nonton ulang Young Sheldon, Meemaw bilng gini 'What’s on a person's face is not always what's in their heart'. Wajah orang bisa bohong. Bukan karena mereka penipu. Tapi karena dunia ini jarang banget ngasih ruang buat kita jujur sepenuhnya, you have this feeling like everyone will judge you, they will say this and that, they will tell other people about this, so better I keep it by myself.


Aku pernah ada di posisi itu juga.

Senyum di depan semua orang, tapi begitu sampai rumah langsung diam aja. Bukan karena nggak mau cerita. Tapi karena tiap ada yang nanya "kamu baik baik aja?" jawabanku selalu keluar sendiri.

"Iya baik kok."

Padahal nggak.

Pertama, jawabannya automatis bilang 'iya baik kok'.
Kedua, malas mau ngomong, malas mau jelasin.


Makanya kalau hari ini kamu lagi baca ini, aku mau bilang dua hal.

Buat kamu yang lagi pura pura baik baik aja:

Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu nggak harus jadi orang yang selalu keliatan tegar di depan semua orang. Ngerasain sesuatu yang berat bukan berarti kamu lemah. Itu justru tandanya kamu manusia beneran. Like what I wrote in my novel - Novel Re.Pair - hidup itu ada fasenya. Ada turun, ada naik. Dan ngerasain sesuatu yang berat bukan berarti hidup udah di ujungnya. Itu justru tanda bahwa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah istirahat. Charge your energy. Tarik napas yang dalam. Dan persiapkan dirimu untuk fase selanjutnya.

Cari satu orang yang kamu percaya. Satu aja cukup. Terus coba jujur, meskipun cuma dikit dikit dulu.

It's okay not to be okay.

Buat kamu yang ada di sekitar orang orang itu:

Jangan cuma lihat mukanya. Tanya lebih dalam. Tanya bukan sekali, tapi dua kali. Karena biasanya jawaban yang jujur itu baru keluar di pertanyaan kedua, setelah orang itu yakin kamu emang beneran mau dengerin. -from my experience, it was a yes- walaupun akhirnya serba salah atau bingung setelah itu mau ngomong apa.


"What's on a person's face isn't always what's in their heart."

Kalimat ini bukan cuma soal kesedihan. Ini juga soal rasa sayang yang belum sempet diungkapin. Keberanian yang belum berani muncul ke permukaan. Mimpi yang masih disimpen rapat-rapat karena takut dianggap lebay atau nggak realistis.

Jadi coba lihat lebih dalam. Ke orang orang di sekitar kamu, dan juga ke diri kamu sendiri.

Karena hal yang paling penting seringkali adalah yang paling susah keliatan.


But back to the beginning, it was so cool and respect banget sebenarnya, di mana dia coba menyemangati orang lain, memotivasi orang lain, padahal dirinya sendiri nggak selalu nemuin sosok itu ketika dia sendiri yang lagi butuhkan.

Dan waktu aku ketemu dia lagi bengong sendirian itu, aku juga ikut bengong. Beneran. Aku nggak tau mau ngomong apa. Nggak ada kata kata yang berasa cukup. Nggak ada kalimat yang kedengarannya pas buat momen itu. 

Aku cuman duduk di sebelahnya, sesekali nanya "ada apa?", tapi habis itu ya ikut bengong lagi. Jujur, aku tipe orang yang contohnya lagi di teras bareng beberapa orang dan ada dua orang lagi diskusi serius, aku mah sibuk makan kuaci. Mau orang bilang aku cuek - iya kamu benar. Mau orang bilang sapi kakinya tiga - iya kamu benar. Mau orang bilang alien pernah makan pizza - iya kamu benar juga. Aku mah semuanya benar, yang penting lass mich einfach in Ruhe. 

Tapi jangan salah. Ini bukan berarti aku nggak peduli.

Justru mungkin ini cara aku yang paling jujur untuk bilang, aku nggak akan selalu punya jawaban yang pas. Aku nggak akan selalu tau kata kata yang tepat buat bikin kamu ngerasa lebih baik. Aku bukan tipe yang langsung punya speech motivasi yang menyentuh hati di momen momen kayak gitu.

Tapi aku di sini. Aku dengerin. Dan kadang memang itu aja yang cukup, bukan jawaban yang sempurna, tapi kehadiran yang nyata. So here I am. Masih bengong, tapi dengerin kamu kok. Jadi aku cuma duduk di sana. Diam. Dan dalam hati aku bilang ke diri sendiri, kalau kamu mau keluarin semuanya, silahkan. Aku di sini. Aku nggak kemana mana.

Aku sadar aku bukan orang yang paling tau cara comforting seseorang. Aku sendiri nggak tau harus mulai dari mana. Tapi aku coba sebaik yang aku bisa, dengan hadir, dengan dengerin, dengan nggak langsung kasih solusi atau kata kata manis yang kadang justru bikin orang ngerasa nggak dimengerti.

Karena kadang, being present dan beneran mendengarkan itu sendiri udah jadi support yang luar biasa besar. Lebih dari yang kita kira.

***

Until the next post, I hope today feels a little lighter than yesterday. Fighting yeorobunnnn.



Love, 
Migroude.



Share:

Wednesday, May 27, 2026

Tuesday, February 17, 2026

Well, everyone has their own limit, hasn’t?

Image source: Pinterest

Hällochen. Kali ini kita ngobrol pelan-pelan aja yah. Kayak lagi ngomong sendiri atau ngomong ke tembok.

These days have been busy - writing, working, living, listening to friend's problems, and trying to keep up with time, which always seems to be sprinting ahead. This piece comes from those stories (don’t worry, I have their permission). I don’t go around trying to mind other people’s business, and honestly, I’m not sure why they keep choosing me as the one to explain everything to. But I’ll take it as a compliment - being trusted with someone’s story is something truly worth appreciating.

Ada satu fase dalam hidupnya ketika dia ngerasa semua masalah bisa selesai kalau dibahas dengan suara yang lebih keras. Siapa yang paling lantang, dialah yang menang. Dan yang paling nyesek, orang-orang malah nganggep yang paling berisik itu yang paling benar - kayak siapa yang paling dominan gitu yah.

Sampai akhirnya hidup ngajarin dia hal yang justru sebaliknya. Well, everyone has their own limit, hasn’t?


“It’s hard to win an argument with a smart person, but it’s damn near impossible to win an argument with a stupid person.”
— Bill Murray

 

Nah quote di atas kerasa kayak tamparan halus. Bukan karena nyakitin, tapi karena jujur. Emang jujur itu selalu pahit. Tapi segala yang pahit itu menyembuhkan, iyakan? Karena hal-hal pahit biasanya maksa kita jujur sama diri sendiri. Jujur soal luka, soal salah, soal kenyataan yang pengin kita hindari. Dan kejujuran itu emang nggak enak di awal, tapi justru di situ proses sembuhnya mulai. Kita sadar kalau kita salah milih orang, kita nerima kalau nggak semua hal bisa kita kontrol, kita denger kebenaran yang nggak sesuai harapan. Nah, itu semua nggak nyaman. Tapi tanpa itu, lukanya cuma ditutup, bukan disembuhin.

Tapi ... nggak semua yang pahit otomatis menyembuhkan juga. Kalau pahitnya cuma nyakitin, ngerendahin, atau bikin kita kehilangan diri sendiri, itu bukan obat - itu racuuuuun, guysss!

Jadi mungkin yang lebih pas: bukan karena pahitnya, tapi karena kita berani nerima dan ngolahnya. Yang bikin sembuh itu bukan rasa pahitnya, tapi keberanian buat hadapin kenyataan, pelan-pelan, dengan sadar. Nggak semua pahit harus ditelan. Dan nggak semua manis itu sehat juga.

Terlampau banyak ngejelasin soal pahit-pahit, ayo kita balik ke tema.

Oh iya soal quote di atas. Debat sama orang pinter aja susah dan menantang, apalagi sama orang stupid - udah nggak ada harapan, cuma buang waktu. Itu ngejelasin kenapa banyak perdebatan nggak pernah benar-benar selesai - bukan karena kurang argumen, tapi karena dari awalnya emang salah milih lawan ngobrol.

Ini aku tambah quote dari drama The Fiery Priest. Aku sekarang kebetulan lagi nonton ini dan pas banget sama writing yang ini. Song Sac ngomong ke Yo Han:


“Those who don’t know that they should raise their voices are idiots, but those who still choose not to are the smart ones.”

 

Dari situ dia mulai ngerti. Ada orang yang nggak tahu kapan harus bersuara - kejebak di ego dan ngerasa selalu paling benar. Tapi ada juga orang yang sebenarnya tahu dia berhak marah, berhak ngomong, berhak ngebela diri, tapi milih diem. Bukan karena takut sih sebenarnya, tapi karena sadar. Karena nggak semua hal itu harus dimenangin, dan nggak semua orang pantes dikasih energi, ngga semua.

Tapi diem juga nggak selalu berarti tenang. Uhuuuu TT

Pernah denger pepatah air tenang jangan disangka nggak ada buayanya? Orang yang kelihatan diam itu seringnya bukan nggak ngerti apa-apa. Mereka cuma lagi nahan diri. Padahal yang diem itu seringnya lagi milih: milih nggak balas, milih nggak ngejatuhin, milih nggak bikin luka yang sebenarnya bisa mereka bikin. Dan lucunya, pas akhirnya mereka bereaksi, semua orang kaget. “Loh, kok dia begini?” Yah, karena selama ini dia nahan, bukan nggak bisa.

That’s the fact: orang yang memilih untuk diam, yang paling ribut justru pikirannya sendiri. Pikiran yang suka nakut-nakutin dari hal-hal yang bahkan belum kejadian. Yang muter-muterin luka lama, bikin skenario buruk tanpa henti. That’s the negative side of being a silent person: overthinking.

Dia bilang, udang sering denger, “Udah, jangan mikirin yang belum tentu kejadian.” Tapi gimana caranya nggak mikir, kalau semua itu terbentuk dari apa yang dia hadapin tiap hari? Di momen kayak gitu, kita berdua cuma bisa banyak-banyak berdoa: “Lindungi kita dari pikiran sendiri yang suka bikin takut sama hal-hal yang belum tentu kejadian.” Karena nggak semua rasa takut itu firasat. Justru menurutku, sebagian cuma luka lama yang belum sembuh, tapi nyamar jadi kewaspadaan.

Pelan-pelan dia mulai nanya ke dirinya sendiri: kenapa harus risau? Kalau sesuatu dilakuin dengan cara yang benar, niat yang lurus, dan hati yang lapang, sebenarnya apa yang perlu ditakutin? Hidup emang nggak janji hasil yang manis, tapi hidup selalu ngasih nilai ke kejujuran.

Masalahnya, jujur nggak selalu bikin tenang. Apalagi kalau lawan bicaranya kebiasaan mikir negatif dan nganggep kejujuran sebagai serangan. Dan ya… kejujuran nggak selalu datang dengan damai. Kadang, ngomong jujur malah bikin sedih. Bikin orang lain marah. Ngeruntuhin gambaran yang selama ini mereka bangun tentang diri mereka sendiri. Truth doesn’t care about your feelings, right? Kebenaran nggak peduli kamu tersinggung, sakit hati, atau marah. Dia tetap kebenaran. Yang bisa dipilih cuma satu: siap nerima atau nggak.

Luka paling dalam sering datang bukan dari musuh, tapi dari lingkungan yang salah. Dari orang-orang yang nggak sadar sama sikapnya sendiri. Salah, ngulang lagi, ngulang lagi. Dia orangnya penyabar, tapi kalau semuanya numpuk, sampai akhirnya marah - karena ya, dia manusia.

Anehnya, pas dia marah, malah dia yang dibilang jahat. Mereka lupa kalau kemarahannya lahir dari perbuatan mereka sendiri. Mereka lupa kalau sabar juga ada batasnya. Dan yang paling berat, mereka nggak sadar sama sekali.

To be honest, seseorang bisa pelan-pelan rusak kalau kelamaan ada di lingkungan kayak gitu. Fisik dan mental loh. Bahaya. Harus pergi, walaupun harus banyak pengeluaran dan pengorbanan. Bukan karena dia lemah, tapi karena dia terus diminta ngerti tanpa pernah dimengerti. Terus diminta paham tanpa pernah dianggap.

Cuma mau bilang itu sih. Writing kali ini emang amburadul. Makanya aku bilang kayak ngomong ke tembok. Dimengerti aja yah.

Oh iya, di titik yang paling rendah itu, akhirnya dia paham kalau jaga diri sendiri itu bukan egois, dan pergi bukan berarti kalah. Diem bukan berarti salah, dan milih nggak jelasin diri ke orang yang nggak mau ngerti… itu bentuk kedewasaan yang paling sunyi. Harus belajar kalau nggak semua orang pantes denger cerita kita. Nggak semua orang layak tahu luka-lukanya. Dan nggak semua hubungan harus diperjuangin - apalagi kalau dia harus kehilangan dirinya sendiri di dalamnya.

Akhirnya, dia milih tenang. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena dia berhenti ngelawan hal-hal yang memang nggak bisa dia ubah. Dia tetap jujur, walau harus sendirian. Dia tetap waras, walau harus jaga jarak. Karena ketenangan itu sebenarnya sebuah kemenangan yang nggak butuh tepuk tangan siapa pun. Nggak ada happy ending. Nggak ada tepuk tangan, cuma tenang. Dan ternyata itu cukup.

Kayaknya selesai, okay. The end. Semangat semuanyaaaa and good night everyone. Sini udah jam 00:01. 

Share:
Blog Design Created by pipdig